Profil Alumni; Bermodal Bahasa Arab, Zakiyah Arifa Bisa Keliling Dunia
Untuk meraih sebuah kesuksesan terkadang memang harus berawal dari mimpi. Namun tidak cukup hanya dengan bermimpi saja, harus dibarengi dengan usaha yang gigih dan tentunya jangan putus asa. Selama ada kemauan pasti ada jalannya, kalau ada kesempatan diusahakan, kalau ada kegagalan maka anggap saja sebagai pembuka lagi kunci untuk mencari jalan kesuksesan. Yang terpenting tetap harus mau belajar, berusaha, dan berdoa. Insyaallah akan ada jalan dan dibukakan pada waktunya.
Inilah yang terjadi pada Zakiyah Arifa, perempuan kelahiran Jember 16 April 1980, yang sukses keliling dunia diawali dengan mimpi untuk bisa belajar di Luar Negeri hanya dengan bermodalkan Bahasa Arab. Bagaimana cerita perjalannya hingga bisa sukses? Berikut kisah sukses Zakiyah Arifa yang berhasil kami rangkum setelah melakukan wawancara secara online pada 26 November 2020 lalu.
~Berawal dari Sebuah Kegagalan
“Saya senang belajar dan pernah bermimpi untuk belajar di Luar Negeri, tapi beberapa kali mencoba belum berhasil, dan akhirnya tidak bisa masuk manapun karena terkendala ijazah yang beberapa lembaga belum mengakui. Kecewa? Sedih? Iya pastinya. Namun, alhamdulillah akhirnya bisa diterima di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember,” tutur Zakiyah Arifa mengawali kisah perjuangan menggapai mimpinya.
Kala itu, tahun 1999, Zakiyah Arifa--yang biasa disapa dengan panggilan Kiki--masuk di program studi Pendidikan Bahasa Arab. Awalnya ia ragu karena takut bosan dan kurang mendapat tantangan, sebab sebelum kuliah ia telah belajar di Pondok Pesantren Kulliyatul Muallimat Darussalam Gontor, yang mana di pondok tersebut mewajibkan seluruh santrinya menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Tapi ia tetap harus menjalani dan tidak mau larut dalam kekecewaan dan kesedihan, ia tetap berupaya bagaimana dengan Bahasa Arab ini bisa menjadi jalan hidup untuk meraih mimpinya.
Setelah dijalani, ternyata banyak hikmah yang didapat selama kuliah di STAIN Jember. Ia mendapatkan sesuatu yang unik dan menarik yang belum pernah dialami sebelumnya, yaitu harus banyak belajar lagi bahasa Arab ala salaf, dengan kitab-kitab kuning, bahkan kaidah-kaidah yang sangat rumit. Bahkan ia juga sempat menjadi Ketua HMPS PBA STAIN Jember (2002-2003). Kendati demikian, ia mampu menyelesaikan studinya selama empat tahun, dan langsung menjadi tenaga pengajar di salah satu lembaga kursus bahasa asing di Jember.
~Diangkat Jadi Dosen PNS
Selama kurang lebih satu tahun mengajar di lembaga kursus, selanjutnya ia melanjutkan studinya di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Baru satu tahun menjadi mahasiswa program magister Pendidikan Bahasa Arab, ia telah diminta menjadi Dosen Bahasa Arab di Pusat Pengembangan Bahasa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dan pada tahun 2008 diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil Dosen Bahasa Arab di kampus tersebut, satu tahun setelah ia menyelesaikan magisternya.
Tidak cukup hanya menyandang gelar Magister, putri kedua dengan empat bersaudara dari pasangan Achmad Zen dan Syarifah ini melanjutkan ke jenjang berikutnya program doktor di kampus yang sama. Pada tahun 2017 ia telah menyandang gelar Doktor Pendidikan Bahasa Arab dan saat ini juga menjadi dosen Bahasa Arab di program pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Selain menjadi dosen, Kiki juga memiliki segudang pengalaman di bidang organisasi. Seperti menjadi Sekretaris Arsip UIN Malang (2010-2012), Pembina Gudep Pramuka UIN Malang (2010-sekarang), Pengurus Pusat IMLA (Ittihad Mudarrisi al Lughah Al-Arabiyah) (2011-2023), Koordinator Bidang Kemahasiswaan Ikatan Keluarga Pondok Modern Cabang Malang (2017-sekarang), dan Koordinator CLCC (Chinese Language and Culture Center) UIN Malang (2017-sekarang).
Tak hanya itu, ia juga menjadi founder dari beberapa organisasi, yaitu: Namyra (Nady Muhibbil Arabiya) pada tahun 2018, dan YANADA (Yayasan Nahnu Darussalam) Malang pada tahun 2019. Terbaru, di tahun 2020 ini ia telah mendirikan Arifa Learning Center.
~Berkeliling Dunia dengan Bahasa Arab
Selain menempuh pendidikan formal, Kiki juga pernah mengikuti beberapa pelatihan professional baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa pelatihan yang pernah diikutinya seperti: Academic Recharging for Indonesian Teachers (ARFI) di Tunisia (2013), Content Language Integrated Learning (CLIL), Indonesia Australia Language Foundation (IALF) di Bali, Indonesia (2014), Arabic Academic Writing Skill, University of Education Indonesia (2014), National Training of Trainer Arabic Curricullum for Senior High School di Tangerang, Indonesia (2015), Sanctioining Evaluation in Language Learning di Depok, Indonesia (2016), Chinese Language Short Course, Ningxia International Language College di Ningxia, China (2018), dan Daurah Tadribiyah Maharat Ta’lim al-Lughah al-Arabiyah Lin Natiqiina bighairiha wa Turuq Taqwimiha Prince Noura University and King Abdul Aziz International Center for Arabic Language Saudi Arabia (2020).
Ia menceritakan, bahwa bahasa Arab telah berhasil membawanya untuk belajar dan melakukan penelitian di berbagai negara, tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga bisa menjelajahi Tunis di Afrika, kemudian Jerman, Belanda, hingga Perancis di Eropa, bahkan sampai ke negeri China di berbagai propinsi. “Kalau ditanya, itu cuma mengandalkan bahasa Arab? iya, benar, beneran,” tandasnya.
Kiki juga bercerita bahwa proposal dan kajian yang ia angkat dalam penelitian adalah melihat secara langung pembelajaran bahasa Arab di berbagai negara non-Arab. “Ternyata bisa juga kan. Apa yang saya yakini, jalani dan nikmati ini bisa mewujudkan mimpi lama yang hampir terpendam. Bisa belajar sambil jalan-jalan. Asyik juga kan,” ungkap wanita yang memiliki hobi travelling ini.
Kepada mahasiswa PBA IAIN Jember, ia berpesan untuk terus bermimpi dan berusaha meraih mimpi itu. Kita harus meyakini bahwa bahasa Arab bukanlah menjadi penghalang, justru menjadi tantangan, kekuatan dan kelebihan yang bisa kita andalkan. Asal kita percaya dan berusaha yang terbaik yang kita bisa. “Bahasa Arab ini, kita pelajari betul, kita jalani, nikmati, selami, hingga menjadi darah daging dalam hidup. Selanjutnya, serahkan pada Yang Maha Pencipta Bahasa, insya Allah berkah, aamiin. Selalu Semangat, agar tetap kuat dan sehat. Tahiyyah Arabiyah!,” ujarnya dengan penuh semangat. (MAZ/DKN)




