Profil Alumni; Berbekal Tirakat, Muhamad Tantowi Sukses Jadi Guru Negeri
Belajar bahasa Arab menjadi kunci dasar dalam memahami al-Qur’an dan Hadits. Inilah yang menjadi ketertarikan Muhammad Tantowi, untuk memilih kuliah di program studi Pendidikan Bahasa Arab Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember, 18 tahun silam.
“Sejak awal, saya memang tertarik pada Bahasa Arab. Fokus yang saya minati adalah Sharf, Nahwu dan Balaghah” tutur Tantowi menceritakan kisah awal kuliahnya dulu.
Menurutnya, ketiga disiplin ilmu tersebut merupakan kebutuhan dasar dalam memahami ajaran agama Islam dari sumber otentiknya, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.
Tidak bisa dipungkiri pula, bahwa dari keduanya melahirkan berbagai cabang disiplin ilmu yang dibangun oleh para ulama'. Maka sangat tepat jika harus menguasai Bahasa Arab terlebih dahulu untuk dapat memahami Agama Islam secara mendalam.
~Dikenal sebagai Santri Tekun dan Disiplin
Muhammad Tantowi lahir di Kabupaten Banyuwangi 21 November 1981 silam. Dia merupakan Putra dari Muhammad Darwis dan Suniyati. Sebelum kuliah, ia sempat belajar di Pondok Pesantren Modern Al-Kautsar Muncar Banyuwangi, yang saat ini berubah nama menjadi Pondok Pesantren Al-Azhar.
Sejak mulai belajar dipondok, Tantowi memang terkenal sebagai santri yang paling disiplin dan tekun dalam belajar. Selain itu, sejak remaja ia sudah sering tirakat dengan berpuasa dan qiyamul lail. Padahal jika dibandingkan dengan remaja seusianya ketika itu, tidak ada yang seperti dia. Bahkan sampai saat ini, ia masih istiqomah menjalani tirakat tersebut.
Inilah yang patut kita jadikan salah satu inspirasi buat diri kita masing-masing, agar kita dapat mencapai sebuah kesuksesan. Lebih menariknya lagi, selama belajar di pondok ia tidak pernah mengikuti lomba karena tidak tertarik untuk menjadi juara. Baginya, sebuah perlombaan itu pasti beharap mendapatkan hadiah, sedangkan tujuan utama belajar adalah ridho Alloh.
Setelah lulus dari pondok, ia melanjutkan kegiatan pengabdian di Pondok Pesantren Darus Sholah Jember. Kegiatan ia lakukan ketika itu adalah mengajar beberapa mata pelajaran seperti Bahasa Inggris, sharf, nahwu dan imla' al-Qur’an pada tingkat SMP. Sedangkan di Pondok Pesantren, dia dipercaya mengajar baca al-Qur’an, kitab ta'lim al-Muta'allim, bulughul maram, sulam al-taufiq dan kitab-kitab lainnya.
Meski sibuk, Tantowi tetap dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu selama 4 tahun, dan lulus di tahun 2006. Hal ini sesuai dengan motto hidupnya “Jangan pernah berhenti belajar meskipun sudah mengajar, man salaka thariiqan yuthlabu fiihi 'ilman, salakallahu thariiqan ilal jannah”.
~Lolos sebagai Guru PNS
Setelah lulus program sarjana Strata-1, di tahun 2007 dia juga diminta untuk dapat menularkan pengetahuan Bahasa Arabnya dengan mengajar di Unit Pelayanan Bahasa (UPB) STAIN Jember. Dan pada tahun 2008 lalu, ia lolos dalam tes CPNS dan diangkat menjadi PNS pada tahun 2009 sebagai Guru di MTS Negeri 7 Jember sampai dengan tahun 2012. Setelah itu ia dipindah di MTS Negeri 1 Jember sampai dengan sekarang.
Saat ini, dari hasil pernikahannya dengan Elok Faiqotus Sholehah, ia telah dikaruniai dua orang anak yang bernama Nanda Muhammad Ya’qub dan Diyah Syifa Atika. Kini dia tinggal di rumah sederhana di Desa Cangkring Jenggawah Jember.
"Seriuslah dalam bidang sharf, nahwu dan balaghah agar tidak mudah terprovokasi oleh konten media sosial yang jauh dan menjauhkan kalian dari ulama'. Jangan lupa "tirakat", bisa dengan berpuasa, qiyam lail, membaca al-Qur’an, bershalawat. Dan jangan pernah tinggalkan bakti terhadap orang tua. Mintalah ridho keduanya serta doa dari mereka. Jangan pacaran!!! Agar hati tidak tercemar oleh rayuan setan yang menyesatkan.” Ujar Tantowi memberikan pesan kepada adik-adik mahasiswa di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. (MAZ)




