Meneruskan Jejak Publikasi Jurnal Ilmiah Terakreditasi, Lionyza Zaneta Rasendria Kirana, Mahasiswa PBA Ketiga yang Lulus Tanpa Skripsi
Terinspirasi dari kakak tingkatnya sendiri, Siti Soleha, S.Pd dan Berlian Nestia Agustin, S.Pd, mahasiswi bernama Lionyza Zaneta Rasendria Kirana yang kerap disapa Zara, melanjutkan estafet publikasi jurnal ilmiah yang sudah dicontohkan oleh kedua kakak tingkatnya tersebut.
Awal mula ia memantapkan langkahnya untuk memilih tugas akhir berupa publikasi jurnal ilmiah terakreditasi yaitu karena keinginannya yang terus bermanfaat bagi banyak orang.
Mahasiswi semester 7 ini tahu, bahwa ia masih belum menjadi pribadi yang memiliki banyak ilmu dan pengalaman, akan tetapi ia tetap berusaha untuk bisa membagikan ilmunya walau hanya sedikit agar bisa menjadi amal jariah.
Keputusannya mengambil jalur publikasi jurnal ilmiah untuk syarat kelulusan adalah sebagai bentuk baktinya pada dunia pendidikan dan nenek yang ia cintai. Zara dikenal lebih banyak mendedikasikan waktunya menjaga nenek di rumah, seringkali ia meninggalkan kesempatan berkumpul untuk sekadar bersenda gurau bersama teman-teman kuliahnya kecuali ketika kerja kelompok. Menurut pertimbangannya, melalui jalur publikasi jurnal ilmiah ini ia dapat memiliki banyak waktu di rumah karena tidak perlu selalu bolak balik bimbingan, sehingga bisa lebih sering menjaga dan merawat neneknya yang sudah renta.
Ia adalah pribadi yang mencoba untuk terus maju dan mematahkan stigma lingkungan meski tahu jurusan yang ditempuhnya sangat bertolak belakang dengan riwayat pendidikan sebelumnya yaitu MIPA. Pada akhirnya ia mampu membulatkan tekadnya untuk submit jurnal pada tanggal 1 September 2025, dan dinyatakan publish pada 24 Desember 2025 bersamaan dengan sidang tugas akhirnya. Para dewan penguji pun mengapresiasi keberhasilannya dan memberi motivasi untuk melanjutkan studi S2.
Baginya, ini semua bukanlah akhir, justru merupakan langkah awal yang menjadi bekal untuk memulai kehidupan setelah perkuliahan.
Baginya, ridho Allah tidak hanya terletak pada ridho orang tua, tetapi juga ridho semua pihak yang tulus mendoakannya hingga sampai di titik ini. Walau seringkali orang melihat kehidupannya tampak ideal, sejatinya ia hanya bersembunyi di balik topeng senyum dan kebermanfaatan. Karena sebagaimana wejangan Ustadzah Halimah Alaydrus yang selalu ia jadikan pegangan, yakni "Dunia bahkan tidak ideal buat manusia paling tercinta di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, lalu bagaimana kamu berharap duniamu bisa ideal?".
Dari balik tangis yang ia usap dalam sunyi, dari balik pedih yang ia sembuhkan sendiri, dari balik harap adik-adik yang menggantungkan cita, dan dari kekuatan doa orang-orang yang mencintainya, mama, papa, ibu, dan bapak, Zara berdiri, bangkit, dan terus melangkah, karena baginya menyerah adalah bentuk kekalahan yang paling disengaja untuk menunda keberhasilan.
Pesan untuk pembaca : Teruslah mencoba walau hatimu masih gentar, teruslah melangkah walau cibiran seringkali mematahkan, dan teruslah bersinar walau cahayamu seringkali diredupkan, karena sejatinya ketika dirimu tetap maju, disitulah letak kemenangan yang sedang kau rajut perlahan.




