Mahasiswi PBA UIN KHAS Jember Bagikan Pengalaman Berharga Selama Asistensi Mengajar di MTsN 8 Banyuwangi
Jember, 2025 — Salah satu mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Shinta Ayu Kharisma, sukses menyelesaikan program Asistensi Mengajar di MTsN 8 Banyuwangi selama empat bulan. Mahasiswi kelas PBA-1 yang berasal dari Desa Sidorejo, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember ini membagikan cerita inspiratifnya selama melaksanakan tugas sebagai calon pendidik.
Shinta mengungkapkan bahwa dirinya mengikuti program ini karena tiga alasan utama:
“Saya ingin mengeksplor kemampuan saya dalam dunia pendidikan, bukan hanya sebagai pendidik tetapi juga sebagai bentuk pengabdian di sekolah. Selain itu, materi kuliah selama ini banyak teori dan sedikit praktik, sehingga saya ingin melatih rasa percaya diri sekaligus menerapkan ilmu yang saya miliki. Asistensi selama empat bulan ini juga menjadi bekal penting untuk karier saya di masa depan,” ujarnya.
Selama bertugas, Shinta tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah. Ia mengikuti:
-
Pondok Ramadan dan bagi-bagi takjil
-
Instruktur senam dan Aksi Bergizi
-
Pendamping Perkemahan Sabtu Minggu se-Kabupaten
-
Pelaksana Program Ecobrick (daur ulang botol plastik) untuk P5 Kurikulum Merdeka
-
Panitia Haflatul Ikhtitam dan Tasyakur / Wisuda Kelas 9
-
Pendamping kegiatan Jumbara PMR se-Kabupaten Banyuwangi
“Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bukti nyata pengabdian saya selama di MTsN 8 Banyuwangi. Bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga belajar dari banyak pengalaman baru yang sangat berharga bagi saya,” tutur Shinta.
Pada hari pertama mengajar, Shinta tidak langsung menyampaikan materi. Ia memulai dengan perkenalan dan obrolan ringan untuk membangun hubungan emosional dengan siswa.
Shinta kemudian membagikan secarik kertas berisi pertanyaan: “Apakah kalian suka belajar bahasa Arab? Jika suka atau tidak, apa alasannya?” Dari jawaban siswa, ia mendapati bahwa sebagian besar tidak menyukai bahasa Arab karena dianggap sulit, membosankan, dan monoton.
“Dari situ saya belajar bahwa tugas saya bukan hanya mengajar, tetapi membuat mereka tertarik dulu. Saya ubah strategi pembelajaran dengan membuat media kreatif seperti komik, dadu berisi dhomir, kartu mufrodat, PPT interaktif, game, hingga bernyanyi agar suasana kelas tidak kaku,” jelasnya.
Shinta juga membagikan kiat-kiat agar mahasiswa lain dapat mengikuti jejaknya:
-
Menguasai materi tentang perangkat pembelajaran dan tugas pendidik.
-
Berlatih mengajar dengan menyiapkan media dan strategi pembelajaran menarik, seperti mind mapping dan modul ajar.
-
Menunjukkan antusiasme dan kemampuan komunikasi saat wawancara seleksi.
Melalui pengalaman ini, Shinta berharap semakin banyak mahasiswa yang berani turun langsung ke sekolah untuk mengasah diri.
“Menjadi guru bukan hanya soal mengajar, tetapi bagaimana menghadirkan pembelajaran yang hidup dan bermakna bagi siswa,” pungkasnya.




